Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Hidup Adalah Sengsara

Gambar
Hidup adalah sengsara, kata seorang teman. Segala sesuatu yang enak pasti tidak baik. Sebaliknya, yang nggak enak itu bagus buat kita. Makan... enak, tapi nggak bagus bagi manusia. Karena makanan, orang jadi menderita kolesterol, kanker, usus buntu, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya. Tidur enak, tapi efeknya orang jadi malas-malasan dan nggak produktif. Mengonsumsi narkoba... hmm... enak (kata mereka), tapi efeknya merusak tubuh dan menghancurkan masa depan. Lantas yang bagus buat manusia apa? Ya, yang nggak enak. Kerja... nggak enak, bikin capek, menguras pikiran dan tenaga, tapi bagus bagi manusia. Karena bekerja, misalnya menyapu ruangan, ruangan jadi bersih. Karena bekerja, kebutuhan hidup bisa terpenuhi. Sekolah, nggak enak. Membosankan, siswa dituntut belajar terus dan harus dapat nilai tinggi agar lulus. Tapi efeknya bagus. Kita menjadi cerdas dan kaya akan ilmu pengetahuan. Nge-gym nggak enak, bikin badan sakit-sakitan. Pada mulanya sih iya, namun bagus bagi tubuh. T...

Abang Ganteng

Gambar
“Abang ganteeeeng…,” aku kaget mendengar ada yang menyapaku. Aku menoleh ke kanan, ternyata dari dua orang wanita. Aku hanya membalas dengan senyuman seadanya, lalu terus berjalan mencari sebuah alamat. Siang itu aku hendak menuju lokasi pesta pernikahan adik sepupuku, Lydia Fristina. Mamaku dan mamanya beradik kakak. Aku memanggil mama Lydia dengan panggilan One. Lydia, anak One, menikah hari ini, dengan seorang pria asal Pekalongan, Jawa Tengah. Sudah tiga kali aku berkunjung ke rumah One. Pertama kali saat aku ada urusan ke Jakarta, tahun 2010 silam. Kedua, pada saat aku tinggal di Bandung, dan yang terakhir saat Wenny, anak kedua One, menikah pada tahun 2011. Sudah empat tahun aku tak ke sana. Lupa? Iya. Yang aku ingat, One tinggal di Kranji, Kota Bekasi. Aku naik kereta dari Stasiun Juanda dan turun di Stasiun Kranji. Sampai di sana aku bingung alamatnya di mana ya? Yang kutahu cuma Kranji, dan Kranji itu luas. Aku coba ingat-ingat kembali. Kalau tak salah dulu kalau ke rumah...

Jalan Panjang Menembus Lapangan Banteng

Gambar
Kali ini saya akan berbagi cerita tentang pengalaman mengikuti seleksi tes Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Lingkungan Kementerian Keuangan Tahun Anggaran 2014. Berikut tahapan-tahapan yang saya lalui: 1.      Seleksi Administrasi Online           Pada saat itu saya melakukan registrasi online mulai tanggal 25 Agustus 2014. Disarankan untuk selalu aktif memantau informasi pembukaan penerimaan CPNS dan baca dengan baik jadwal registrasi online, berkas yang mesti dipersiapkan, dan lain-lain. Pada tahun 2014, diwajibkan melakukan registrasi online di http://panselnas.menpan.go.id atau website Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB). Setelah itu, kita akan mendapatkan nomor registrasi yang akan digunakan untuk melakukan registrasi online berikutnya, yaitu di http://rekrutmen.kemenkeu.go.id atau website Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Ingat, baca petunjuk pengisi...

Kucing Sudah Beranak Pula

Kucing di rumah sudah beranak pula. Patutlah bertambah banyak suaranya mengeong-ngeong. Tapi induk kucing ini bertanggung jawab pula rupanya. Mengeong-ngeong dia padaku, berharap aku kasih dia makan, dan diolah jadi makanan untuk anaknya yang mengeong-ngeong kelaparan.  Beda sama manusia sekarang. Manusia kalau sudah melahirkan anak, kadang dia tinggalkan saja anak di tepi jalan, malah dimasukkan dia ke dalam kardus, tidak mau dia mengurus.  Kucing saja tidak seperti itu. Kalau pun anaknya dimasukkan ke dalam kardus, induknya ikut juga masuk ke dalam kardus. Di sana mereka tinggal, di rumah kardus itu. (Disadur dari Catatan dalam akun Facebook lamaku yang di-hack, diposkan pada tanggal 11 Maret 2010).

"Sunguik Da Wan"

"Taba sunguik e lai," sorak Mak Itam nan tibo mangajuikkan urang lapau nan sadang maota. "Sunguik sia nan taba, Mak Itam?" tanyo Buyuang Kurik. "Sunguik si Da Wan. Calon wali nagari awak dulu. Dulu nyo ndak basunguik doh kan. Kini caliak lah, labek lo sunguiknyo taka sapu ijuk," kato Mak Itam.  Lah tagalak-galak urang salapau dibueknyo. Hanyo karano Da Wan nan mulai mamaliharo sunguik, alah abih lo hari dek maotaan sunguik Da Wan salamo duo jam. Urang lapau tantu sanang, karano sambil maota, kopi tambuah juo, rokok baisok taruih. Tapi beda samo Mak Itam. Asal pai ka lapau Mak Aciak, nyo indak mangopi, indak pulo maisok doh. Bukannyo pilik atau sakunyo bajaik. Tapi Mak Itam dari dulu indak suko mangopi doh, apo lai maisok. Kalau batandang ka lapau Mak Aciak, paliang-paliang nyo cuman bali gulo-gulo. "Jadi baa sunguik Da Wan tu, Mak Itam?" tanyo Rajo angek garang nan dari tadi diam-diam sajo. Ruponyo inyo alah indak saba mananti Mak Itam bacarito. ...

Terkejut Aku, Mic Itu Jatuh! Sumpah

Gedebum! Mic yang masih menyala dan memang menjadi senjata pamungkasnya tiba-tiba saja terjatuh ke lantai, saat ia masih baru mulai ngomong. Sontak semua orang yang hadir di sini terkejut, termasuk aku. Yang lagi bermenung jadi terbelalak. Yang agak ngantuk, jadi melotot.  Suara apa itu? Rupanya mic jatuh. Dan dia, dia si pemberi kata sambutan, si ketua pelaksana itu, ah... Aku yakin pasti malu. Tuh mukanya memerah dan peluh mulai bercucuran. Kok bisa? Padahal aksinya berjalan ke pentas tampak berwibawa olehku. Mungkin grogi, ah... Pasti grogi. Tapi dia kembali memungut mic yang jatuh bak buah kelapa jatuh dari pohon itu dan melanjutkan apa yang mau dia bicarakan. Tapi, ah... Mungkin sudah terlanjur malu, dia sedikit terbata-bata melanjutkan pembicaraan. Gugup tepatnya. Ucapan puji syukur dihaturkan pada Rasulullah, setelah itu langsung diralat. Tapi dia terus ngomong, walau peluh bercucuran terus. Aku tertawa terbahak-bahak, maaf, bukan terbahak-bahak, tapi tertawa cekikikan, tapi...

Menunggu Giliran

Gambar
Pernahkah menunggu? Saya rasa sebagian besar manusia pasti sepakat bahwa menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan, apalagi jika harus menunggu lebih lama dari waktu yang sudah dijanjikan. Bosan? Mungkin. Jengkel? Bisa jadi. Marah? Mungkin juga. Berjanji bertemu pukul tiga, namun realisasinya datang pukul lima atau bahkan lebih lama lagi. Banyak hal yang membuat kita menunggu, seperti menunggu angkot, menunggu giliran dipanggil saat berobat di rumah sakit, menunggu antrean saat mengisi bahan bakar di SPBU, menunggu kelulusan, menunggu kelahiran anak pertama, dan lain sebagainya. www. greatinspire.com Sebenarnya banyak hal positif yang bisa dilakukan ketika menunggu. Orang Jepang, misalnya, dimana-mana terkenal dengan tingkat kegemaran membacanya yang tinggi. Ketika menunggu di halte, stasiun, terminal, bandara, atau di mana saja, mereka mengisi waktu dengan membaca. Itu salah satu hal yang bisa kita contoh, daripada menunggu sambil menggerutu dan malah menghabiskan...

Sheila.. Kamu Sakit?

"Sheila.. Kamu sakit?" Kata-kata itu yang ingin aku ucapkan padanya pagi yang cerah ini. Senin 4 Mei 2015, aku masuk ke ruangan kerja dengan semangat seperti biasa dan wajah pertama yang kulihat adalah wajahnya. Dia tersenyum kecil. "Hmmm.. yang baru pulang dari Balikpapan," kataku sambil berjalan menuju kursi. Dia balas dengan senyuman, tapi tidak ceria. Aku duduk di kursiku. "Baru pulang kampung kok kayaknya lemas gitu," kataku sekali lagi. Dia hanya tersenyum, senyumnya lemas begitu. Aku mulai berpikir, jangan-jangan dia sakit. Mungkin kurang enak badan setelah bolak-balik Jakarta-Balikpapan di saat liburan yang katanya lumayan panjang demi bertemu keluarga tercinta di kampung. "Sheila.. Kamu sakit?" Kata-kata itu yang ingin aku ucapkan padanya pagi ini. Aku lihat dia lebih sering memejamkan mata. Sesekali dia usap keningnya. "Mungkin dia pusing," pikirku. Wajahnya tidak seperti biasanya.  "Sheila.. Kam...

Jangan Dicekik.. Jangan Dicekik....

Gambar
"Eahhh.. eehh,, aaaeehh," Bapak itu bersuara. Entah apa yang ingin disampaikannya aku tak tahu. Sesekali tangannya bergerak-gerak agar orang yang diajaknya "berbicara" dapat memahami apa yang ingin dikatakannya. Gerak-gerik bola mata dan bibirnya seakan-akan ikut membantu menjelaskan apa yang ia maksud. Bapak itu Bernama Atang, pegawai senior di Bagian Umum Kesekretariatan DJKN Kemenkeu RI. Bapak itu, mohon maaf, memang tidak bisa berbicara layaknya manusia normal. Bapak itu, sekali lagi mohon maaf, sepertinya tunarungu. Sepengetahuanku, tunarungu adalah orang yang tidak dapat mendengar. Karena tidak dapat mendengar, biasanya orang tunarungu tidak bisa berbicara alias bisu. Kalaupun bisa berbicara, apa yang disampaikannya kurang jelas, karena mereka tidak pernah mendengar suara sama sekali. Kalau sudah begini, bagaimana mereka bisa belajar berbicara? Apakah sejak lahir Pak Atang seperti itu atau bagaimana, aku kurang tahu dan tidak ingin mencari tahu ke orang-or...

Film Di-copy, Tapi Tidak Ditonton

Gambar
Mohon maaf kalau tulisanku kurang bagus. Sudah hampir tiga tahun aku tidak menulis. Lama sekali. Aku hanya sering melihat-lihat tulisan orang, namun selalu tidak pernah meluangkan waktu untuk menulis sebentar. Sekarang aku coba untuk menulis kembali, di sela-sela waktu senggang di kantor.  Tadi aku baru saja disuruh meminta file ke ruangan lain. Di sana bertemu dengan Ibu Linda. Saat ngobrol, ia langsung tahu daerah asalku. "Dari Padang ya, Mas?" katanya. "Ya, Buk," jawabku. Ternyata logatku masih belum berubah. Namun bukan tentang logat atau daerah asalku yang ingin aku ceritakan, tapi tentang film. Saat aku menulis tulisan ini, aku sambil mengotak-atik komputer yang ada di depanku. Pikiranku tertuju pada file apa saja yang bermanfaat untuk dilihat dan dipelajari. Mulai dari aplikasi untuk memisahkan lembar demi lembar file pdf, materi tentang Kekayaan Negara, berbagai jenis film, dan lain-lain. Pokoknya yang memiliki banyak manfaat bagi diri sendiri dan ...