Menunggu Giliran

Pernahkah menunggu? Saya rasa sebagian besar manusia pasti sepakat bahwa menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan, apalagi jika harus menunggu lebih lama dari waktu yang sudah dijanjikan. Bosan? Mungkin. Jengkel? Bisa jadi. Marah? Mungkin juga. Berjanji bertemu pukul tiga, namun realisasinya datang pukul lima atau bahkan lebih lama lagi. Banyak hal yang membuat kita menunggu, seperti menunggu angkot, menunggu giliran dipanggil saat berobat di rumah sakit, menunggu antrean saat mengisi bahan bakar di SPBU, menunggu kelulusan, menunggu kelahiran anak pertama, dan lain sebagainya.

www.greatinspire.com


Sebenarnya banyak hal positif yang bisa dilakukan ketika menunggu. Orang Jepang, misalnya, dimana-mana terkenal dengan tingkat kegemaran membacanya yang tinggi. Ketika menunggu di halte, stasiun, terminal, bandara, atau di mana saja, mereka mengisi waktu dengan membaca. Itu salah satu hal yang bisa kita contoh, daripada menunggu sambil menggerutu dan malah menghabiskan banyak energi, lebih baik melakukan hal-hal yang bermanfaat, entah itu membaca, menulis, atau apa saja yang penting menyenangkan dan tidak menggangu kenyamanan orang lain.

Pagi ini aku baru saja menunggu lift untuk naik ke lantai delapan. Pintu lift pertama terbuka, tapi langsung penuh diisi oleh manusia. Aku menunggu lift berikutnya. Menunggu bagiku terkadang tak hanya terasa membosankan, tapi juga sekaligus mendebarkan. Pernah waktu masih SMP dulu disuruh maju ke depan kelas untuk menyanyikan lagu bebas saat mata pelajaran Kesenian. Satu per satu siswa dipanggil ke depan kelas untuk bernyanyi. Pada mulanya aku merasa beruntung ketika abjad awal namaku berawalan Y, sehingga dapat giliran tampil lebih lama dan punya banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Namun ternyata proses menunggu giliran itu sungguh membuat aku cemas dan deg-degan, rasanya campur aduk. Deg-degan karena aku yang tidak hobi menyanyi ini terpaksa harus bernyanyi di hadapan teman sekelas. Rasanya semakin campur aduk saat aku lihat teman-teman yang sudah maju ada yang tampil bagus. Apakah bisa aku tampil sebagus mereka? Ada perasaan tersiksa juga menunggu giliran dipanggil selama itu. Padahal bernyanyi di depan kelas hanya tiga sampai lima menit. Namun ternyata setelah bernyanyi, ada perasaan lega yang menghampiri. Tak peduli berapapun nilai yang diberikan oleh Bu guru, yang penting sudah bernyanyi di depan kelas.

Tak selamanya kita menghabiskan waktu untuk menunggu. Seberapa lama pun proses penungguan, lebih tepatnya penantian, akan berakhir juga. Menunggu di rumah sakit dan akhirnya dipanggil juga. Menunggu antrean di SPBU akhirnya tiba giliran kita untuk mengisi bahan bakar. Hidup di dunia ini seperti hanya menunggu giliran. Menunggu giliran untuk dilahirkan pertama kali ke dunia, menunggu giliran untuk sekolah, tamat, wisuda, menikah, punya anak, lalu bermenantu. Semua ada waktunya.

Selama menunggu, Tuhan hanya meminta kita untuk bersabar sedikit saja dan tinggal menunggu tanggal mainnya. Bukankah apa yang akan terjadi pada diri kita sudah tertulis di Lauhul Mahfudz jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia, bahkan sebelum alam raya ini diciptakan? Terpikir oleh saya, hidup di dunia ini hanya sebentar, lalu pernahkah membayangkan kapan giliran kita untuk dijemput Ilahi? Sudah siapkah kita untuk menghadap yang maha kuasa? Sudah cukupkah amal ibadah kita sebagai jaminan masuk surga yang sudah dijanjikan? Yang jelas selama menunggu giliran tersebut kita hanya dapat terus memperbaiki diri dan memperbanyak amal ibadah yang akan dibawa ke akhirat nanti, karena kita tidak akan pernah tahu di urutan keberapa Malaikat Izrail akan memanggil kita, bisa jadi besok, lusa, setahun atau 10 tahun lagi, atau setelah membaca tulisan ini.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Panjang Menembus Lapangan Banteng

Bahagia Versi Saya

Jangan Dicekik.. Jangan Dicekik....