Sheila.. Kamu Sakit?

"Sheila.. Kamu sakit?"

Kata-kata itu yang ingin aku ucapkan padanya pagi yang cerah ini. Senin 4 Mei 2015, aku masuk ke ruangan kerja dengan semangat seperti biasa dan wajah pertama yang kulihat adalah wajahnya. Dia tersenyum kecil.

"Hmmm.. yang baru pulang dari Balikpapan," kataku sambil berjalan menuju kursi. Dia balas dengan senyuman, tapi tidak ceria. Aku duduk di kursiku.

"Baru pulang kampung kok kayaknya lemas gitu," kataku sekali lagi. Dia hanya tersenyum, senyumnya lemas begitu. Aku mulai berpikir, jangan-jangan dia sakit. Mungkin kurang enak badan setelah bolak-balik Jakarta-Balikpapan di saat liburan yang katanya lumayan panjang demi bertemu keluarga tercinta di kampung.

"Sheila.. Kamu sakit?"

Kata-kata itu yang ingin aku ucapkan padanya pagi ini. Aku lihat dia lebih sering memejamkan mata. Sesekali dia usap keningnya. "Mungkin dia pusing," pikirku. Wajahnya tidak seperti biasanya. 

"Sheila.. Kamu sakit?" 

Kata-kata itu yang ingin aku ucapkan padanya pagi ini. Tak sulit sebenarnya jika mau aku bisa katakan sambil tetap duduk di kursi, pasti terdengar olehnya. Meja kerjaku dan meja kerjanya saling berhadap-hadapan dan hanya berjarak 2,5 meter saja. 

"Sheila.. Kamu sakit?" 

Kata-kata itu yang ingin aku ucapkan kepadanya pagi ini. Sheila, adik manis yang berasal dari Balikpapan, sebuah kota besar di Borneo. Sudah seminggu aku seruangan dengannya. Selama itu pula, di saat kerja, entah disengaja atau tidak, sering aku melihat wajah manisnya dari balik monitor komputerku. 

"Sheila.. Kamu sakit?" 

Kata-kata itu yang ingin aku ucapkan padanya pagi ini. Aku lihat ada seorang pria mendekat ke arahnya. "Sheila lagi sakit, ya? Udah pulang aja. Istirahat di rumah," kata pria tersebut. Pria tersebut kemudian berbicara dengan seorang pria lainnya yang duduk di belakang Sheila. "Pak, tolong anterin pulang, kecapean kali habis pulang kampung," katanya. Sheila hanya melirik dan tersenyum. 

"Sheila.. Kamu sakit?" 

Kata-kata itu yang ingin aku ucapkan padanya pagi ini. Tak lama kemudian, seorang pria berkacamata masuk ke ruangan sambil menenteng sebungus plastik asoy. Pria tersebut mendekat ke arah Sheila lalu memberikan plastik asoy tersebut kepadanya. Gadis manis itu pun tersenyum lalu mengeluarkan isi yang ada di dalam asoy, ternyata tolak angin dan minyak kayu putih.

"Sheila.. Kamu sakit?" 

Kata-kata itu yang ingin aku ucapkan padanya pagi ini. Ternyata dia sakit. Setelah meminum tolak angin dan mengoleskan minyak kayu putih, kulihat dia membaringkan kepala di atas meja sambil memejamkan mata. Tak lama kemudian, seorang pria yang memegang kunci mobil mengajaknya pergi. Kulihat Sheila beranjak mengikuti pria tersebut sambil membawa tas. Sebelum pergi, dia memohon izin kepada Kepala Seksi (Kasi) untuk istirahat di rumah. Kasi pun memberikan izin dan berharap agar dia cepat sembuh. "Sheila mau dikerokin, nggak?" tanya pria yang duduk di belakang sana sambil tertawa. Sheila hanya tersenyum dan berjalan ke luar kemudian menghilang dari pandangan mata.

"Sheila.. Kamu sakit?" tanyaku sambil mendekatinya.
"Sheila.. Kamu sakit apa?" tanyaku sekali lagi.
"Sheila.. mau kutemani berobat?" tanyaku sambil menatap dua bola matanya yang bulat lucu.
"Sheila.. aku beliin obat untukmu, ya?" tanyaku sambil melihat senyum manis di wajah lemasnya pagi ini.

Semua itulah yang ingin kusampaikan padanya pagi ini, tapi tidak berani kulakukan. Semuanya hanya kuucapkan di dalam hati. Sheila yang berparas manis dan lumayan ramah, pasti memikat banyak pria untuk menunjukkan rasa sayang dan perhatian padanya. Apa yang ingin kusampaikan kepadanya ternyata sudah dilakukan oleh mereka, dan aku hanya bisa mengucapkan "semoga cepat sembuh", kali ini juga di dalam hati saja.










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Panjang Menembus Lapangan Banteng

Bahagia Versi Saya

Jangan Dicekik.. Jangan Dicekik....