Jangan Dicekik.. Jangan Dicekik....
"Eahhh.. eehh,, aaaeehh," Bapak itu bersuara. Entah apa yang ingin disampaikannya aku tak tahu. Sesekali tangannya bergerak-gerak agar orang yang diajaknya "berbicara" dapat memahami apa yang ingin dikatakannya. Gerak-gerik bola mata dan bibirnya seakan-akan ikut membantu menjelaskan apa yang ia maksud.
Bapak itu Bernama Atang, pegawai senior di Bagian Umum Kesekretariatan DJKN Kemenkeu RI. Bapak itu, mohon maaf, memang tidak bisa berbicara layaknya manusia normal. Bapak itu, sekali lagi mohon maaf, sepertinya tunarungu. Sepengetahuanku, tunarungu adalah orang yang tidak dapat mendengar. Karena tidak dapat mendengar, biasanya orang tunarungu tidak bisa berbicara alias bisu. Kalaupun bisa berbicara, apa yang disampaikannya kurang jelas, karena mereka tidak pernah mendengar suara sama sekali. Kalau sudah begini, bagaimana mereka bisa belajar berbicara?
Apakah sejak lahir Pak Atang seperti itu atau bagaimana, aku kurang tahu dan tidak ingin mencari tahu ke orang-orang yang ada di ruangan. Yang jelas, Pak Atang ini duduk di sebelah aku. Kemarin aku mengobrol dengannya, tentunya dengan bahasa isyarat. Dia menulis sesuatu di secarik kertas. Di sana tertulis 1970 PUPN. Aku mengerti maksudnya. Dia ingin menyampaikan bahwa ia sudah bekerja di sini sejak tahun 1970, sejak direktorat ini masih bernama Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN). Artinya ia sudah lama mengabdi. Kedua tangannya digerakkan ke atas kemudian digerakkan lagi seperti membentuk setengah lingkaran. Ia ingin mengatakan bahwa pengalamannya sudah sangat banyak. Aku tersenyum dan mengacungkan jempol ke arahnya sebagai ganti kata "mantap".
Kemudian Pak Atang menunjukkan label salah satu oleh-oleh khas suatu daerah. Ia menunjuk tulisan "GARUT", kemudian menunjuk-nunjuk dadanya. Artinya, ia ingin mengatakan kalau ia berasal dari Garut, Jawa Barat. Aku tersenyum sekali lagi. Kubuka Google Maps, lalu kucari Kota Jayapura. Aku zoom kemudian aku perlihatkan ke Pak Atang, lalu aku menunjuk-nunjuk Jayapura dan dadaku, dia tertawa "hua..heu..heee". Sepertinya dia heran, keningnya berkerut. Lalu ia menyatukan jempol dengan jari tengah kanannya kemudian menggesek-gesekkannya, artinya dia ingin melambangkan duit, lalu tangannya dilayang-layangkan ke atas. Artinya ia ingin mengatakan bahwa biaya perjalanan jika pulang kampung ke Jayapura pasti sangat mahal hahaha.. Tentu saja sangat mahal, Pak dan tentu saja aku hanya bercanda mengatakan kalau aku berasal dari Jayapura, Papua.
Baru empat hari aku mengenal Pak Atang. Sepanjang yang kuamati, Pak Atang rajin bekerja dan suka bercanda. Walau dengan segala keterbatasan, ia kulihat tetap semangat dan bercengkrama dengan orang-orang seperti biasa, walau tidak semua orang mengerti apa yang disampaikannya. Kemarin lusa aku dengar Pak Atang sedang ngobrol dengan yang lain. "Eh.. Jangan dicekik..jangan dicekik," teriak orang yang duduk di ujung sana. Aku tahu ia sedang bercanda, lalu ia tertawa terbahak-bahak. Memang benar Pak Atang berbicara seperti orang yang lagi dicekik, tetapi rasanya sedikit iba aku mendengar itu, kalau ia diolok-olok karena disabilitasnya. Bagaimana perasaan anak dan istrinya kalau menyaksikan Pak Atang diolok-olok karena ia punya keterbatasan seperti itu? Hmm, semoga Pak Atang bisa berbicara dan mendengar seperti manusia normal.
Walau bagaimanapun sikap orang lain terhadapnya, kulihat Pak Atang selalu tersenyum. Tak ada yang dimasukkan ke dalam hati. Ia seperti tidak pernah membawa ke hati urusan apapun, semua dibawa santai dan rileks. Tiba-tiba ada yang duduk di sampingku dan seperti memerhatikan apa yang kutulis. Aku "switch" layar ke laman yang lain. Lalu aku lihat ke kanan, ah..ternyata Pak Atang yang sedang duduk di kursinya. Hahahaha. Ia tidak mungkin tahu kalau aku sedang membuat tulisan tentangnya. Ia menoleh lalu tersenyum padaku. Di balik senyumannya tersirat bahwa ia sudah banyak makan asam garam kehidupan. Aku tersenyum kembali dan buru-buru memposting tulisan ini. Sudah waktunya shalat Ashar.
Bapak itu Bernama Atang, pegawai senior di Bagian Umum Kesekretariatan DJKN Kemenkeu RI. Bapak itu, mohon maaf, memang tidak bisa berbicara layaknya manusia normal. Bapak itu, sekali lagi mohon maaf, sepertinya tunarungu. Sepengetahuanku, tunarungu adalah orang yang tidak dapat mendengar. Karena tidak dapat mendengar, biasanya orang tunarungu tidak bisa berbicara alias bisu. Kalaupun bisa berbicara, apa yang disampaikannya kurang jelas, karena mereka tidak pernah mendengar suara sama sekali. Kalau sudah begini, bagaimana mereka bisa belajar berbicara?
Apakah sejak lahir Pak Atang seperti itu atau bagaimana, aku kurang tahu dan tidak ingin mencari tahu ke orang-orang yang ada di ruangan. Yang jelas, Pak Atang ini duduk di sebelah aku. Kemarin aku mengobrol dengannya, tentunya dengan bahasa isyarat. Dia menulis sesuatu di secarik kertas. Di sana tertulis 1970 PUPN. Aku mengerti maksudnya. Dia ingin menyampaikan bahwa ia sudah bekerja di sini sejak tahun 1970, sejak direktorat ini masih bernama Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN). Artinya ia sudah lama mengabdi. Kedua tangannya digerakkan ke atas kemudian digerakkan lagi seperti membentuk setengah lingkaran. Ia ingin mengatakan bahwa pengalamannya sudah sangat banyak. Aku tersenyum dan mengacungkan jempol ke arahnya sebagai ganti kata "mantap".
![]() |
| Pak Atang yang Murah Senyum |
Kemudian Pak Atang menunjukkan label salah satu oleh-oleh khas suatu daerah. Ia menunjuk tulisan "GARUT", kemudian menunjuk-nunjuk dadanya. Artinya, ia ingin mengatakan kalau ia berasal dari Garut, Jawa Barat. Aku tersenyum sekali lagi. Kubuka Google Maps, lalu kucari Kota Jayapura. Aku zoom kemudian aku perlihatkan ke Pak Atang, lalu aku menunjuk-nunjuk Jayapura dan dadaku, dia tertawa "hua..heu..heee". Sepertinya dia heran, keningnya berkerut. Lalu ia menyatukan jempol dengan jari tengah kanannya kemudian menggesek-gesekkannya, artinya dia ingin melambangkan duit, lalu tangannya dilayang-layangkan ke atas. Artinya ia ingin mengatakan bahwa biaya perjalanan jika pulang kampung ke Jayapura pasti sangat mahal hahaha.. Tentu saja sangat mahal, Pak dan tentu saja aku hanya bercanda mengatakan kalau aku berasal dari Jayapura, Papua.
Baru empat hari aku mengenal Pak Atang. Sepanjang yang kuamati, Pak Atang rajin bekerja dan suka bercanda. Walau dengan segala keterbatasan, ia kulihat tetap semangat dan bercengkrama dengan orang-orang seperti biasa, walau tidak semua orang mengerti apa yang disampaikannya. Kemarin lusa aku dengar Pak Atang sedang ngobrol dengan yang lain. "Eh.. Jangan dicekik..jangan dicekik," teriak orang yang duduk di ujung sana. Aku tahu ia sedang bercanda, lalu ia tertawa terbahak-bahak. Memang benar Pak Atang berbicara seperti orang yang lagi dicekik, tetapi rasanya sedikit iba aku mendengar itu, kalau ia diolok-olok karena disabilitasnya. Bagaimana perasaan anak dan istrinya kalau menyaksikan Pak Atang diolok-olok karena ia punya keterbatasan seperti itu? Hmm, semoga Pak Atang bisa berbicara dan mendengar seperti manusia normal.
Walau bagaimanapun sikap orang lain terhadapnya, kulihat Pak Atang selalu tersenyum. Tak ada yang dimasukkan ke dalam hati. Ia seperti tidak pernah membawa ke hati urusan apapun, semua dibawa santai dan rileks. Tiba-tiba ada yang duduk di sampingku dan seperti memerhatikan apa yang kutulis. Aku "switch" layar ke laman yang lain. Lalu aku lihat ke kanan, ah..ternyata Pak Atang yang sedang duduk di kursinya. Hahahaha. Ia tidak mungkin tahu kalau aku sedang membuat tulisan tentangnya. Ia menoleh lalu tersenyum padaku. Di balik senyumannya tersirat bahwa ia sudah banyak makan asam garam kehidupan. Aku tersenyum kembali dan buru-buru memposting tulisan ini. Sudah waktunya shalat Ashar.

Komentar
Posting Komentar