Abang Ganteng

“Abang ganteeeeng…,” aku kaget mendengar ada yang menyapaku. Aku menoleh ke kanan, ternyata dari dua orang wanita. Aku hanya membalas dengan senyuman seadanya, lalu terus berjalan mencari sebuah alamat.
Siang itu aku hendak menuju lokasi pesta pernikahan adik sepupuku, Lydia Fristina. Mamaku dan mamanya beradik kakak. Aku memanggil mama Lydia dengan panggilan One. Lydia, anak One, menikah hari ini, dengan seorang pria asal Pekalongan, Jawa Tengah. Sudah tiga kali aku berkunjung ke rumah One. Pertama kali saat aku ada urusan ke Jakarta, tahun 2010 silam. Kedua, pada saat aku tinggal di Bandung, dan yang terakhir saat Wenny, anak kedua One, menikah pada tahun 2011. Sudah empat tahun aku tak ke sana. Lupa? Iya. Yang aku ingat, One tinggal di Kranji, Kota Bekasi. Aku naik kereta dari Stasiun Juanda dan turun di Stasiun Kranji. Sampai di sana aku bingung alamatnya di mana ya? Yang kutahu cuma Kranji, dan Kranji itu luas.
Aku coba ingat-ingat kembali. Kalau tak salah dulu kalau ke rumah One aku turun di sebuah Masjid dan Masjid itu Bernama Masjid Al Falah. Benar saja, setelah kutanya pada pedagang di sekitar Stasiun Kranji, Masjid Al Falah ada di Kranji dan lokasinya berada di pinggir jalan. Kalau mau ke sana naik angkot nomor 03. Aku beli sebuah amplop dan sekotak Susu Ultra 250 ml di sekitaran sana. “Totalnya berapa, Pak?” kataku. “Jadi enam ribu,” katanya.
Angkot 03 lewat. Sebelum naik, aku pastikan kembali ke sopirnya. “Lewat Masjid Al Falah, Pak?” “Iya,” jawabnya. Lalu aku naik dan duduk di samping sopir. Mungkin Anda berpikir, mengapa mesti repot-repot tanya sana-sini, mengapa nggak menelepon One saja? Apa nggak punya nomor HP-nya? Bukannya nggak punya, nomornya ada sih, namun kebiasaanku memang seperti itu, lebih memilih menemukan sesuatu dengan usaha sendiri dan tau-tau sudah tiba di tempat yang dituju..hahaha. Kali ini aku yakin alamat One benar di dekat Masjid Al Falah.
Angkot berhenti di depan Masjid Al Falah. Aku lihat janur kuning, tidak ada. Aku berjalan ke tempat foto copy-an. “Maaf, Mas, boleh minjam penanya? Saya mau menulis nama di amplop ini,” pintaku sambil mengeluarkan amplop putih yang sudah kuisi dengan sejumlah uang. “Oh, boleh, ini Mas” katanya.
“Mas, kalau yang kondangan atas nama Lydia dimana ya?” tanyaku.
“Mmm,” kayaknya dia bingung.
“Lydia yang orang Padang, Mas. Alamatnya di dekat Masjid Al Falah ini,” kataku.
“Baru-baru ini kami mencetak keperluan pernikahan untuk dua orang yang yang nikah di belakang Masjid Al Falah ini, Mas, tapi kurang tahu Lydia orang Padang yang mana” katanya.
“Oh, ya makasih mas,” kataku.
Aku berjalan menuju janur kuning. Di sana tertera nama mempelai. Ternyata bukan nama Lydia. Lalu aku tanya ke tempat rumah makan Padang. Ketemu bapak-bapak. Setelah kubilang yang nikah orang Padang, anaknya Pak Edi, ternyata yang jual kenal. Lalu bapak itu mengatakan bahwa lokasinya di dekat tanjakan, di sana ada janur kuning, masuk ke dalam. “Dakek kok dari siko,” katanya. Artinya jaraknya dekat dari sini. Ternyata setelah dijalani jaraknya sekitar 0,2 km. Alamaak.
Tiba di tanjakan itu, aku lihat janur kuning. Ternyata ada dua. Yang satu atas nama “EDI & LISA” dan yang satu lagi punya “LYDIA & HABIB”. Aku masuk ke dalam gang itu. Panas terik, aku lebih memilih jalan kaki. Di perjalanan mencari alamat itu aku sedikit bingung. Dalam hati berontak seolah ingin mengatakan “Sudahlah..tinggal telepon saja, nanti pasti dijemput” Tapi tekadku tetap kokoh untuk mencari sampai dapat tanpa harus menelepon One. Bukannya apa-apa, aku tidak mau menyusahkan orang lain. Aku tahu One dan keluarga pasti sangat sibuk melayani tamu undangan, memastikan makanan tersedia dengan baik, dan lain-lain agar resepsi pernikahan anaknya berjalan dengan lancar. Sementara aku, aku masih sanggup jalan kaki kok.
Di pengkolan aku bertanya ke ibu-ibu yang jualan gado-gado. “Bu, numpang nanya, yang nikahan atas nama Lydia, orang Padang, anaknya Pak Edi dimana ya, Bu?” “Oh, Masnya udah lewat, yang nikah di Jalan Bugis tuh. Masnya balik lagi ke arah jalan gede, sebelum itu ketemu jalan kecil, nah di situ,” kata si Ibu.
                Aku bingung. “Tapi, Bu, itu petunjuknya “Lydia & Habib” panahnya ke arah sana,” kataku sambil menunjuk ke arah dalam.
“Nggak, Mas. Itu jalan buntu. Yang nikah orang Padang, kan?”
“Iya, Bu,” kataku.
“Iya, benar, Mas. Di situ orang Padang, Pak Edi,” kata si Ibu.
“Kalau begitu terima kasih, Bu,” kataku sambil tersenyum dan berjalan balik ke arah jalan yang kulalui tadi. Balik ke jalan tadi, tentunya aku akan kembali melihat dua wanita yang menggodaku tadi. Ternyata benar, mereka masih duduk di situ, di depan rumahnya. Dari jauh mereka menatap wajahku sambil berbisik dan mencolek satu sama lain, lalu setelah aku berjalan agak dekat, mereka kembali mengucapkan “Abang ganteeeeng” dengan genitnya.  Aku balas dengan senyuman termanis yang kupunya sambil mengatakan “Iya adeeeek”.
             Mereka adalah dua orang anak kecil, mungkin usianya sekitar lima tahunan. Begitu beraninya mereka menggoda aku. Setelah kuberikan senyuman, mereka tetap tersenyum sambil tetap menatapku hingga aku menghilang dari pandangan mereka. Aku belok ke kanan, ke arah jalan besar. Jalan yang pertama kulalui tadi. Di sana ada gang kecil, mungkin itu Gang Bugis. Ada yang nikahan di sana. Kutanya penanti tamu, benarkah yang nikahan di sini Lydia, orang Padang, anaknya Pak Edi?
          “Ini orang Padang juga. Tapi bukan Lydia. Yang nikah di sini Lisa dan Edi,” katanya. Aku salah lagi. Lalu ia mengatakan kalau Lydia anaknya Pak Edi yang nikah rumahnya masuk ke dalam terus, jaraknya lumayan jauh, sekitar 300 meter. Ternyata jalan yang kulalui tadi, dan ternyata benar penunjuk arah yang ada di dekat tempat Ibu yang jualan gado-gado tadi. Lokasi pesta pernikahan anak Pak Edi masih terus ke dalam. Aku kembali menyusuri jalan yang kulalui tadi. Melewati jalan tadi, dua adik kecil tadi masih bermain di sana. Melihatku berjalan dari kejauhan, mereka tampak kegirangan.
             “Abang ganteeeng,” kembali mereka menggodaku sambil tersenyum.
            “Iya adeeeek,” aku balas sambil tersenyum. Kulihat gigi-gigi mereka beum tumbuh sempurna. Mungkin sudah pernah tumbuh lalu copot atau bagaimana aku tak tahu. Mereka masih sangat kecil.

Di Acara Pesta Pernikahan Lydia

            Aku tiba di lokasi pesta. Kusalami One dan Pak Edi. Lydia dan suaminya, Habib, yang lagi duduk di pelaminan kusalami juga. Jam tiga sore aku tiba di tempat One. Ngobrol dengan Pak Edi dan One lalu berfoto dengan kedua mempelai. Aku menyicipi hidangan yang ada. Di sana ada Wenny dan Fadli. Fadli merupakan anak ke-3 One. Aku lalu ngobrol dengan Fadli. Fadli bercerita tentang pekerjaannya. Ia sekarang bekerja di salah satu perusahaaan multinasional di bidang otomotif. Sudah dua tahun ia bekerja, sejak tamat sekolah. Umurnya sekarang 20 tahun. Aku sangat senang mendengar adik sepupuku itu sukses dan rajin bekerja.
            Kulihat Fadli merokok.
            Fadli: Bang Yose kapan nikah?”
Aku : (tersenyum)
Persis seperti senyuman yang kuberikan pada dua anak kecil yang menggodaku di jalan tadi.
(Disadur dari lembar catatanku saat di Jakarta tanggal 12 Mei 2015)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Panjang Menembus Lapangan Banteng

Bahagia Versi Saya

Jangan Dicekik.. Jangan Dicekik....