Terkejut Aku, Mic Itu Jatuh! Sumpah
Gedebum! Mic yang masih menyala dan memang menjadi senjata pamungkasnya tiba-tiba saja terjatuh ke lantai, saat ia masih baru mulai ngomong. Sontak semua orang yang hadir di sini terkejut, termasuk aku. Yang lagi bermenung jadi terbelalak. Yang agak ngantuk, jadi melotot.
Suara apa itu? Rupanya mic jatuh. Dan dia, dia si pemberi kata sambutan, si ketua pelaksana itu, ah... Aku yakin pasti malu. Tuh mukanya memerah dan peluh mulai bercucuran. Kok bisa? Padahal aksinya berjalan ke pentas tampak berwibawa olehku.
Mungkin grogi, ah... Pasti grogi. Tapi dia kembali memungut mic yang jatuh bak buah kelapa jatuh dari pohon itu dan melanjutkan apa yang mau dia bicarakan. Tapi, ah... Mungkin sudah terlanjur malu, dia sedikit terbata-bata melanjutkan pembicaraan. Gugup tepatnya. Ucapan puji syukur dihaturkan pada Rasulullah, setelah itu langsung diralat. Tapi dia terus ngomong, walau peluh bercucuran terus. Aku tertawa terbahak-bahak, maaf, bukan terbahak-bahak, tapi tertawa cekikikan, tapi cuma sebentar, setelah itu senyum-senyum sendiri, padahal maunya tertawa terbahak-bahak. Kalau saja aku tertawa terus, pastinya bikin keributan di acara yang sedang berlangsung. Oh, ya, aku mengikuti acara pelepasan wisudawan/i ke-87 UNP. Kakakku wisuda hari ini.
Bukan aku saja yang tertawa, memang beberapa orang di dekatku juga tak kuasa menahan tawa melihat mic, senjata pamungkasnya itu, tiba-tiba saja seperti jatuh dari langit ke bumi. Tapi, aku salut melihat dia, si pemberi kata sambutan, walaupun dibuat malu oleh sebuah mic, ia tetap menunaikan tugasnya sampai habis, berbicara hingga kata terakhir. Setelah itu... Ia bergegas turun, berjalan sambil garuk-garuk kepala, keluar meninggalkan ruangan acara. Aku tertawa sekali lagi, mengambil ponsel, dan menulis catatan ini.
(Disadur dari Catatan dalam akun Facebook lamaku yang di-hack, diposkan pada tanggal 27 Maret 2010, saat acara pelepasan wisuda kakakku).
Suara apa itu? Rupanya mic jatuh. Dan dia, dia si pemberi kata sambutan, si ketua pelaksana itu, ah... Aku yakin pasti malu. Tuh mukanya memerah dan peluh mulai bercucuran. Kok bisa? Padahal aksinya berjalan ke pentas tampak berwibawa olehku.
Mungkin grogi, ah... Pasti grogi. Tapi dia kembali memungut mic yang jatuh bak buah kelapa jatuh dari pohon itu dan melanjutkan apa yang mau dia bicarakan. Tapi, ah... Mungkin sudah terlanjur malu, dia sedikit terbata-bata melanjutkan pembicaraan. Gugup tepatnya. Ucapan puji syukur dihaturkan pada Rasulullah, setelah itu langsung diralat. Tapi dia terus ngomong, walau peluh bercucuran terus. Aku tertawa terbahak-bahak, maaf, bukan terbahak-bahak, tapi tertawa cekikikan, tapi cuma sebentar, setelah itu senyum-senyum sendiri, padahal maunya tertawa terbahak-bahak. Kalau saja aku tertawa terus, pastinya bikin keributan di acara yang sedang berlangsung. Oh, ya, aku mengikuti acara pelepasan wisudawan/i ke-87 UNP. Kakakku wisuda hari ini.
Bukan aku saja yang tertawa, memang beberapa orang di dekatku juga tak kuasa menahan tawa melihat mic, senjata pamungkasnya itu, tiba-tiba saja seperti jatuh dari langit ke bumi. Tapi, aku salut melihat dia, si pemberi kata sambutan, walaupun dibuat malu oleh sebuah mic, ia tetap menunaikan tugasnya sampai habis, berbicara hingga kata terakhir. Setelah itu... Ia bergegas turun, berjalan sambil garuk-garuk kepala, keluar meninggalkan ruangan acara. Aku tertawa sekali lagi, mengambil ponsel, dan menulis catatan ini.
(Disadur dari Catatan dalam akun Facebook lamaku yang di-hack, diposkan pada tanggal 27 Maret 2010, saat acara pelepasan wisuda kakakku).
Komentar
Posting Komentar