Maling dan Hantu



Maling mengintai rumah saya. Saya terbangun karena suara-suara tidak biasa dan terdengar mencurigakan yang berasal dari pekarangan rumah. Dari jendela kaca kamar, saya mengintip ke luar. Sekelebat bayangan di kegelapan malam membuat saya terkejut. Ternyata beneran maling. Tamu tak diundang itu terlihat bergerak-gerak di depan pagar rumah. Tanpa pikir panjang, saya langsung teriak: Maliiiing!



Tak ada respon. Saya berharap agar teriakan saya membuat warga sekitar, minimal tetangga terdekat, langsung berlarian keluar rumah, ternyata sia-sia. Saya berlari keluar dari kamar, menuju ruang tengah, dan mengecek pintu utama. Ternyata sudah dalam kondisi terbuka sedikit. Begitu juga dengan pintu teralisnya, saya dapati dalam keadaan tidak terkunci. Apakah mereka baru mau menyatroni rumah atau sudah selesai melancarkan aksinya?



Saya berteriak sekali lagi: maliiiiing! yang diteriaki maling malah bergeming, tetap santai beraktivitas di depan pagar seolah memastikan kembali tindak kejahatan kali ini berjalan seperti yang sudah direncanakan di atas kertas. Saya yakin mereka pasti sudah sadar akan kehadiran saya yang menatap dari balik pintu teralis. Saya lihat maling terdiri dari dua orang pemuda menggunakan sepeda motor berwarna merah yang diparkir di depan pagar rumah. Wajah mereka tidak terlihat jelas, karena lampu jalanan di dekat pagar mungkin mereka padamkan sebelum beraksi.



Saya dengar pintu kamar mama berbunyi. Saya lihat mama keluar dari kamar, lalu menuju dapur, seperti hendak membuat teh hangat atau sejenisnya. Saya berkata, di luar ada maling. Entah didengarkan entah tidak, mama saya berlalu begitu saja. Saya heran bukan main. Kalaupun mama tidak mendengar suara saya, mengapa tidak bertanya, ada apa tengah malam begini berdiri di balik pintu?



Kemudian saya berlari menuju kamar. Saya ambil hp kecil yang tergeletak di lantai. Saya akan menelepon Ajo, tetangga sebelah rumah. Sebelum menelepon, dari balik kaca jendela kamar, saya sorot menggunakan senter hp ke arah pagar, ternyata dua maling itu masih di sana. 



Saya menelepon Ajo. Tanpa menunggu lama, Ajo menjawab telepon. Sebelumnya saya menyampaikan permintaan maaf sudah mengganggu waktu istirahat Ajo. Namun, tiba-tiba saya sadari, ini bukan waktunya berbasa-basi. Saya kemudian mengatakan bahwa ada maling di depan pagar rumah saya. Saya harap Ajo bisa membantu saya melumpuhkan maling itu, bahkan mengerahkan warga sekitar untuk menghakimi mereka. Tapi sangat disesali, Ajo tidak memahami apa yang saya katakan. Saya juga merasa saya tidak bisa menjelaskan dengan baik bahwa maling itu ada. Merasa kecewa, percakapan di telepon saya akhiri.



Kini saya sadari bahwa ternyata saya tidak selalu bisa mengharapkan bantuan orang lain dalam situasi sulit. Saya harus berjuang sendiri menghadapi maling-maling itu. Dengan langkah cepat, saya kembali menuju pintu utama. Di balik pintu teralis, saya melihat mereka masih ada di sana. Saya berkata dalam hati, seandainya saya punya senjata api, pasti sudah saya tembakkan ke arah mereka, kalau tidak membuat cedera, paling tidak membuat mereka lari tunggang langgang menghilang di kegelapan malam. 



Saya kumpulkan keberanian, buka pintu dan sekarang saya sudah berdiri di teras rumah. Jarak antara saya dan mereka hanya sekitar 5 meter, hanya dihalangi oleh pagar rumah yang masih tertutup. Sebelum memulai aksi heroik, saya mengancam dan menghardik mereka, berharap agar mereka ketakutan dan segera pergi. Ternyata mereka bergeming. Saya mulai merasa khawatir. Di tangan saya tidak ada senjata apapun, parang, balok kayu, atau sejenisnya. Lalu maling-maling itu, senjata apa yang mereka punya? Saya tidak mau menyerah dengan keadaan. Saya mencari-cari batu, namun di sekitar teras tidak ada batu, yang ada hanya tumpukan sandal. Tak ada batu, sandal pun jadi. Saya lemparkan sandal-sandal itu ke arah mereka, entah tepat sasaran atau tidak, tidak terdengar suara mereka meringis kesakitan. Maling-maling itu, sambil tetap duduk di atas sepeda motornya, hanya diam sambil melihat saya. Saya bergegas masuk ke dalam rumah, menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya. 



Saya berteriak berkal-kali: maliiiiing! maliiiing! Tetap tak ada yang menanggapi. Di tengah rasa putus asa, saya berlari kembali menuju kamar. Di tengah pelarian, saya menyadari suatu hal yang keliru, ternyata suara saya tidak keluar sama sekali. Hasrat hati ingin berteriak sekencang-kencangnya, ternyata suara saya tertahan di kerongkongan. Mungkin saja dari tadi saya merasa berteriak padahal tidak ada suara yang keluar sama sekali, bisa jadi karena ketakutan di tengah situasi genting begini. Namun saya kembali berusaha untuk berteriak lagi. Maliiiing! masih tidak berhasil, kedua kalinya akhirnya saya berhasil dan mendengar sendiri teriakan saya yang lumayan kencang, hingga mata saya terbuka. Ada apa ini? Sial, ternyata saya mimpi. Untung teriakan "maling" saya barusan tidak membuat orang tua terjaga.



Saya lihat waktu di hp, menunjukkan pukul 23.39. Saya baru tertidur sekitar 30 menit. Sebelumnya seolah ada sesuatu yang menghimpit di dada hingga saya merasa kesulitan bernafas. Setelah berjuang melepaskan itu, saya pun tertidur kembali hingga mendapati mimpi bertema "maling". Ada apa ini? Seminggu terakhir ini, rata-rata saya tidur mulai pukul 1 - 2 dini hari dan bangun sekitar pukul 5 - 6 pagi, padahal sebelumnya saya selalu mulai tidur pukul 9 - 10 malam dan bangun sekitar pukul 3 - 4 subuh. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena bermain game Mobile Legend. Game yang baru saya install sejak dua minggu yang lalu ini ternyata sudah berhasil membuat saya ketagihan, bermain hingga lupa waktu. Awalnya ikut-ikutan saja. Usai main futsal bersama kawan-kawan, kemudian kami mampir ke tempat makan, dan sambil menunggu hidangan disajikan mereka bermain Mobile Legend, saya sendiri yang tidak ikutan bermain. Selain karena kurang tertarik bermain game, saya merasa tidak memiliki waktu untuk memainkannya. Namun demi melihat keseruan mereka dan saya agak penasaran seperti apa game tersebut, akhirnya saya install juga game yang sudah lama terkenal dimana-mana itu.



Seperti halnya pemula kebanyakan, saya tidak banyak tahu bagaimana cara memainkan game lima lawan lima tersebut. Bahkan misi utamanya adalah menghancurkan menara tim musuh saya ketahui setelah mencoba bermain sendiri di rumah. Berkali-kali mati, semakin banyak juga pelajaran yang didapatkan. Akhirnya sekarang hero saya sudah di posisi Elite.

Saya menyadari, sejak bermain game ini, ada beberapa perubahan yang saya alami. Barangkali karena waktu istirahat yang berkurang, saya menjadi agak lebih sensitif, mudah tersulut emosi, dan kurang peka terhadap lingkungan sekitar. Ketika ada yang mengajak berbicara atau mengalihkan perhatian saya saat saya bermain, bisa jadi saya merasa kesal. Ketika ada kesibukan ataupun dalam keadaan santai, saya selalu mencoba untuk bermain game Mobile Legend. Sesuatu yang saya yakini tak akan pernah terjadi sebelumnya. Setiap saat saya selalu memikirkan game ini. Game ini seolah telah menghantui saya.



Oleh karena itu, apa mungkin mimpi saya malam ini ada kaitannya dengan hantu di game ini yang marah kepada saya karena saya sudah tertidur, padahal di jam segitu saya biasanya sedang asyik bermain game. Minimal sekali main dululah sebelum tidur, begitu niat saya sekitar pukul 9 - 10 malam. Namun, ternyata cuma niat di hati saja. Sekali main, ulangi lagi, terus lagi, tambah lagi, hingga akhirnya sudah pukul 1 atau 2 dini hari dan teringat besok pagi harus kerja kembali.



Barangkali juga kejadian diganggu maling dan hantu pada malam ini adalah semacam teguran dari Tuhan karena pola kehidupan saya cukup terdampak setelah bermain game ini, ditengarai lebih banyak mendatangkan mudharatnya daripada manfaatnya. Sebagai salah satu sarana hiburan atau refreshing, sebenarnya tidak ada yang salah dalam game ini, yang salah adalah saya yang terlalu kebablasan dalam bermain. Saya mohon maaf apabila akhir-akhir ini kurang konsentrasi dan mudah sensitif dalam berbagai hal. Mudah-mudahan saya bisa mengendalikan diri lebih baik lagi dan membatasi waktu dalam bermain game ini. Cukup sekian dulu dan sebelum tidur kembali, saya ingin bermain Mobile Legend lagi....sekali saja.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Panjang Menembus Lapangan Banteng

Bahagia Versi Saya

Jangan Dicekik.. Jangan Dicekik....